Teruntuk diriku Bersabarlah

surat-untuk-diri-sendiri




Dear me,

Sejauh ini, kamu sudah melewati banyak hal hampir di seluruh hidupmu. Terlebih melewati amukan badai selama bertahun-tahun. Lantas kamu menjadi keras dan tangguh walau terkadang rapuh.

Tidak mudah menjadi dirimu. Berkali-kali mencoba memahami , mengerti lantas memaklumi. Pada akhirnya memang memaklumi, karena tidak ada pilihan lain. Hidup dalam kubangan penyesalan dan kekecewaan pun tidak ingin dilakukan. Satu-satunya jalan keluar adalah berusaha menjalani hidup senormal mungkin.

Menjadi seorang anak perempuan, anak pertama dan anak dengan toxic parents membuatmu sekuat baja tapi juga serapuh arang.

Lelahkah? jika lelah menangislah dan peluk erat dirimu.

Berkali-kali kamu jatuh dan jatuh, tapi kamu selalu bangkit. Walau harus berjalan terseok dengan menyeret paksa kaki agar mampu terus berjalan. Baik dulu maupun sekarang, kamu pun tetap seperti itu.

Marahkah? jika marah, sujud lah. Pinta padaNYA untuk meringankan sedikit beban di pundakmu dan rebahkan lelah hatimu, barang sebentar.

Kecewakah? jika kecewa, relakanlah. Walau masih bertahan dengan keraguan dan ketidaktahuan, tetaplah percaya…..betapa luas lautan cintaNYA. Rasakan cintaNYA dalam setiap tarikan nafas dan denyut nadi. Dalam setiap tatapan kosong ke atas langit biru dan angin yang bertiup perlahan menyapa helaian rambutmu di antara peluh keringat dan rasa lelah.

Dear me,

Terimakasih sudah bertahan dan berjuang sejauh ini. Aku tahu, lubang di hatimu masih tetap kosong dan hampa kerap dirasa. Meski malaikat kecil mengelilingimu kini dan punggung dengan bahu lebar selalu berada di sisimu siap memelukmu kapan saja. Isi lubang itu dengan sekali hembusan nafas, peluk mereka.

Peluk cintaNYA melalui mereka, yang sengaja DIA hadirkan sebagai hadiah atas kerja kerasmu bertahun - tahun lamanya.

Dear me,

Terimakasih sudah bertahan dan berjuang sendirian sejauh ini. Aku tau, terkadang rasanya tidak berbeda baik sekarang maupun dulu. Menerima pola yang sama dan rasa yang sama seakan percaya bahwa, naas dan derita menjadi garis takdirmu. Seakan kamu percaya, hidupmu sama kerasnya dengan mereka yang berjuang tapi tak pernah menang bahkan hingga ajal menjemput.

Walau demikian, percayalah ada senyum di wajah mereka….perjuangan mereka tidak sia-sia. DIA beri balasan setimpal di hari akhir nanti. Perjuangan mereka menjadi bekal bertemu denganNYA, coba resapi itu.

Pantaskah meminta perjumpaan tanpa perjuangan? tanpa pengorbanan hingga kamu layak bertemu denganNYA nanti?

ingat saja itu.

Wahai Bunda Khadijah, Bunda Fatimah…...semoga aku sekuat kalian wahai wanita yang selalu menjadi ibu bagiku dengan semua tauladan bagiku. Kesabaran kalian selalu menjadi cerminan bagiku.

Dear me,

Masa depanmu bukan saat ini dan bukan di dunia ini. Pertemuanmu denganNYA adalah masa depanmu. Kuatkan niat, raihlah cintaNYA dan bersabarlah. Setelah ini, badai ujian pasti akan selalu datang mendera lagi hingga ingin menyerah lagi dan lagi.

Saat rasa lelah kembali menyerang, berhentilah.

Jangan paksa lagi diri untuk bergerak maju dan melakukan hal yang malah membuat diri semakin merasa terpenjara. Jadilah diri sendiri dan jalani apa yang bisa membuatmu berjalan menuju masa depanmu.

Aku berharap, di akhir tujuan nanti … selain berjumpa denganNYA, atas ijinNYA kamu juga bisa bertemu Bunda Khadijah, Bunda Fatimah dan dia ….. dia yang seorang perempuan yang serapuh dirimu yang juga sama berjuang keras demi hidupnya, sama denganmu. Dia yang selama dua puluh tahun menjadi sahabat yang tak pernah luput dan lupa menyeretmu kembali padaNYA saat jatuh. Dia, sahabatmu.

Akan jadi perjumpaan yang indah bukan?

Ingatlah, semua perjuanganmu tidak akan sia-sia. Maka bersabarlah hingga DIA memintamu pulang, bersabarlah dan lakukan yang terbaik. Hanya tinggal sebentar lagi kamu pulang, pulang…...pulang.

Ingat selalu ini,

Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak akan (sekali pun) menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Hud: 115)

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, seluruh hidup dan matiku; hanyalah kupersembahkan untuk Allah semata, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (al-An’am: 162—163)

dear me,

"Untuk semua kepedihan yang kau alami, bersabar dan bertahanlah, karena Allah tahu di mana batas kemampuanmu. Allah menjadikanmu seorang muslimah karena Ia ingin melihatmu di surga, yang perlu kamu lakukan adalah kamu pantas untuk itu."

Setelah puas menangis, angkat kepalamu, tarik nafas dalam-dalam lalu bangkitlah dan peluk cintaNYA seraya tersenyum dan berkata pada diri sendiri, “ aku bisa, aku bisa dan aku bisa “

#13daysblogspediachallenge #day1 #dearme

Tidak ada komentar:

Terimakasih telah bersedia membaca jurnal dan deep though di sini, silahkan berkomentar yang bijak dan relevan dengan pembahasan. Terimakasih

All illustrations created by artjoka. Diberdayakan oleh Blogger.